Thursday, November 15, 2012

Roller Coaster of Life

Hari ini, 16 November 2012. 

 Sebutlah kurang lebih 50 hari ke depan, saya akan menginjak tahun 2013. Merunut ke belakang, tahun ini saya serasa menaiki roller coaster superdahsyat yang pernah ada.

 Mengawali usia yang ke-27, saya mendapatkan kebahagian yang tiada tara dari teman-teman kantor HAI. Yaa, nggak seberapa sih, hanya saja sebuah kue imut berwarna cokelat dilengkapi beberapa lilin kontan membuat saya terharu. Belum lagi sepulang dari kantor, Mama ternyata juga menyiapkan kue untuk anak bungsunya tercinta. Semakin saya yakin, bahwa keberadaan mereka lah yang menjadikan saya semakin kuat dalam menjalani hidup. Nggak berhenti sampai di sana, dua sahabat baik saya pun dengan sangat sederhana mengajak saya untuk merayakan usia 'matang' ini makan bersama. Ditambah lagi dengan 3 kue mini dadakan ala Retno dan Bernard, saya pun teramat bersyukur dengan kebaikan hati mereka untuk memberikan waktu berharganya kepada saya.

 Namun, Allah itu Maha Adil, kebahagian saya pun diuji dengan munculnya fakta bahwa Papa Acuh harus cuci darah lantaran sakitnya yang kian tak kunjung sembuh. Papa sudah dirawat sejak awal Februari 2012, vonis tentang diabetes, ginjal, serta paru-parunya yang kondisinya makin menurun memaksa kami untuk menyerahkan persoalan ini ke pihak kedokteran.  Sebulan dirawat di RS Budi Asih, Papa terpaksa dilarikan ke RSPAU Halim demi mendapatkan penanganan cepat untuk cuci darah. Kejadiannya di bulan Maret. Bahkan ulang tahun Mba pun terpaksa kami rayakan di RS. Tapi, selama itu kami lakukan bersama, rasanya jauh lebih nikmat dan bahagia.

 Sebulan, dua bulan, tiga bulan, kondisi Papa yang naik turun benar-benar menguji mental saya sekeluarga. Ada momen di mana saya begitu sedih, kesal, senang, marah, hingga memutuskan untuk mengikhlaskan semua yang menjadi putusanNya. Hidup pun nampaknya serasa kurang adil, saya, saya yang pada akhirnya harus merasakan ini? Saya yang secara mental pun sebenarnya belum cukup kuat untuk menghadapi ini semua, sendirian.

 Walaupun support dari orang-orang terdekat selalu saya dapatkan selama menjalani cobaan ini, tapi yang namanya seorang Andwi Febriasrati Larasati belum pernah merasakan selemah ini. Dan, hal yang paling saya takuti pun tiba. Papa pun dipanggil yang Maha Kuasa. Kehilangan sosok seseorang yang sangat dicintai di bulan Juni, menjadi hantaman terhebat dalam hidup saya, Papa Acuh. Kedekatan saya dengan Papa Acuh memang nggak perlu diragukan lagi. Sosoknya yang keras, tegas, taktis, praktis, cuek, dan realistis secara natural masuk ke dalam diri saya. Ilmu kejujurannya dalam bersikap menjadi modal saya dalam menjalani hidup.

Dan, kepergiannya membuat saya yakin bahwa warisan karakternya lah yang akan saya ilhami untuk bisa bertahan dalam hidup. ALhasil, selepas Papa Acuh tiada, saya pun semakin sulit untuk diajak kompromi dengan sesuatu yang nggak masuk itungan saya. Andwi itu galak, jutek, keras, sinis, realistis, skeptis, cuek. Ya, itu saya.

Efek domino seketika menghampiri kemudian. Kesendirian yang makin terasa membuat saya menutup diri kepada siapa pun. Siapa pun. Mama, Mba, Sahabat, semuanya bernilai sama di mata saya. Nggak ada siapa pun yang bisa mengerti kegundahan hati saya sejak ditinggal Papa. Barangkali, hanya sang Pencipta yang tahu bagaimana hati saya bergejolak menghadapi ini semua.

But, GOD, This is the awkward part in 2012!!! Why do i have to feel this??!!! Saat saya merasakan kejatuhan itu semua, secara nggak sengaja pun saya merasakan hal yang selama ini saya slalu ingin ingkari. Hal yang SEHARUSNYA HARAM bagi saya untuk merasakannya dengan sesosok sahabat saya sendiri. Adalah seseorang sahabat yang ternyata sukses membuat saya merasakan 'sayang' yang beda. Fak! Bodoh, bodoh, bodoh, saya seharusnya nggak mengulangi itu untuk kedua kalinya.

Tapi memang, rasa penasaran untuk berani mengungkapkan apa yang saya rasakan menjadi mood booster saya dalam menantang sebuah arti hidup. Gila? Barangkali iya. Daripada mati konyol besok, atau mati penasaran, saya pun memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada sahabat saya. Lucu juga sih, di saat saya sedang rapuh dan dihantam masalah, justru rasa sayang itu tumbuh tanpa sadar. Entah darimana, pelan-pelan makin terasa. Unlucky I'm in love with my best friend, and I know that this was (maybe) my Biggest mistake.

Again, ya sudahlah, semua sudah berlalu. Life is like a Roller Coaster, anyway. And guess what, shit happens. Happy Ending is only on a FairyTale, maybe. Sceptic? So, what? The less you give a damn, the happier you will be...

Can't wait for another adrenaline rush in 2013!!!!